Rebut Cuan dari Berburu Right

Sebuah perusahaan yang sudah go public sering kali perjalanan bisnisnya membutuhkan sebuah dana tambahan yang cukup besar untuk melakukan ekspansi.
Perusahaan tersebut memiliki berbagai macam cara pendanaan seperti mengeluarkan surat hutang, menggadaikan saham atau bisa juga mengeluarkan saham baru.

Saat ini kita akan lebih fokus membahas ketika perusahaan tersebut mengeluarkan saham baru. Pada Saat sebuah perusahaan mengeluarkan saham maka saham baru tersebut biasanya akan ditawarkan terlebih dulu kepada para pemegang saham lama. Para pemegang saham lama memiliki hak untuk mendapatkan penawaran terlebih dulu atas penerbitan suatu saham karena penerbitan saham tersebut akan membuat kepemilikannya dalam perusahaan tersebut menjadi terdilusi.

Terdilusi maksudnya begini, misalnya kita memiliki 1000 lot saham JSNR (Joko Salim And Brothers, kode saham ini hanya sebagai contoh sehingga tidak akan ditemukan dalam daftar saham publik karena memang tidak diperdagangkan dalam BEI). Pada Saat kita memiliki saham JSNR sebanyak 1000 lot tersebut, misalnya kita sama saja memiliki perusahaan JSNR sebanyak 10%. Jika perusahaan JSNR mengeluarkan saham baru dan kita tidak menambah jumlah kepemilikan lot saham dengan membeli saham yang baru diterbitkan maka kepemilikan kita atas perusahaan JSNR bisa berkurang menjadi 9%. Jadi jumlah saham yang kita pegang tetap 1000 lot tetapi kepemilikan kita menjadi 9%. Hal seperti itulah yang dikatakan sebagai saham kita sedang terdilusi.

Kembali pada proses penerbitan saham baru. Saham baru yang diterbitkan biasanya memiliki harga yang jauh lebih rendah dibawah harga saham tersebut di pasar modal sehingga para pemegang saham lama akan tertarik untuk membeli saham baru tersebut.

Ketika sebuah perusahaan menerbitkan saham baru maka mereka akan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli terlebih dulu, hak ini disebut dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dulu atau disingkat HMETD. Proses penerbitan saham baru itu juga dengan istilah Right Issue.

Pada Saat perusahaan mengeluarkan HMETD biasanya akan disertai dengan sebuah rasio pembelian. Misalnya 7:3 atau 11:20, atau 3:5. Rasio 7:3 artinya setiap orang yang memiliki 7 lembar saham memiliki hak untuk membeli 3 lembar saham baru. Rasio 11:20 artinya setiap orang yang memiliki 11 lembar saham lama memiliki hak untuk membeli 20 lembar saham baru. Rasio 3:5 artinya setiap orang yang memiliki 3 lembar saham lama memiliki hak untuk membeli 5 lembar saham baru.

Masing-masing pemilik saham lama diberi kesempatan hingga tanggal tertentu untuk melaksanakan haknya yaitu membeli saham yang baru diterbitkan.

Dalam banyak kesempatan seringkali, para pemilik saham lama ini tidak berminat untuk membeli saham yang baru diterbitkan.
Mereka bisa menjual hak tersebut kepada orang lain. Nah banyak investor yang memburu untuk membeli hak atau right dari para pemilik saham lama ini dengan tujuan agar bisa membeli sebuah saham dengan harga yang lebih murah.

Mari kita membahas salah satu contoh misalnya saja saham yang kode ENRG melakukan right issue dengan rasio 11:20 yang artinya setiap orang yang memiliki 11 lembar saham lama bisa membeli 20 lembar saham baru. Harga saham baru misalnya adalah Rp. 185,- per lembar padahal saham tersebut diperdagangkan di pasar dengan harga Rp. 240,- per lembar saham.

Asumsikan kita bukan pemilik saham ENRG tetapi kita ingin bisa membeli saham ENRG pada harga Rp. 185,- per lembar saham. Yang akan kita lakukan adalah membeli hak yang dimiliki oleh para pemegang saham lama.

Daftar permintaan dan penawaran dari right ini biasanya hanya bisa terlihat dalam waktu beberapa hari menjelang batas akhir penebusan baru. Transaksi jual dan beli right ini hanya bisa kita lakukan pada perdagangan sesi I saja.

Misalnya saja kita berhasil membeli right dari saham ENRG ini dengan harga Rp. 20,- per lembar saham maka artinya kita sudah bisa menebus saham ENRG yang baru dengan harga Rp. 185,- lembar artinya modal kita untuk mendapatkan saham ENRG adalah Rp. 205,- per lembar saham.

Jika keadaan seperti itu yang terjadi maka tentunya sangat menguntungkan bagi kita karena saham tersebut di pasaran sedang diperdagangkan pada level harga Rp. 240,- per lembar saham.

Peluang keuntungan tersebut yang dimanfaatkan sebagian investor untuk berlomba-lomba membeli right pada Saat ada sebuah perusahaan yang akan menerbitkan saham baru.

Meskipun sepertinya mudah dan menguntungkan, strategi untuk berburu right ini tetap mengandung risiko. Ada kalanya setelah saham baru yang diterbitkan selesai didistribusikan, harga saham tersebut tidak naik tetapi justru malah turun.

Dari banyak pemantauan ada yang berpendapat bahwa ketika sebuah perusahaan akan menerbitkan saham baru dengan hak membeli yang lebih besar dari jumlah saham yang dimiliki seseorang maka kita tidak perlu memburu right tersebut karena harganya akan cenderung menjadi turun. Contohnya adalah rasio 11:20, dimana 11 saham lama boleh membeli 20 saham baru, artinya jumlah saham baru akan jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah saham lama. Prediksinya harga akan turun. Jika kita memburu saham-saham seperti itu maka kita akan mengalami kerugian.

Berbeda dengan sebuah perusahaan yang mengeluarkan saham baru dengan rasio 13:4, artinya setiap orang yang memiliki 13 saham lama hanya boleh membeli 4 saham baru. Right dari perusahaan tersebut bisa kita buru supaya kita bisa memiliki saham dengan harga yang rendah. Meskipun harga saham tersebut akan mengalami penyesuaian, biasanya yang membeli saham baru tetap bisa mendapatkan keuntungan.

Konsultasikan terlebih dulu dengan broker Anda ketika hendak melakukan strategi ini. Sebelumnya pastikan dulu broker Anda mengerti hitung-hitungan saham dengan benar. Jangan sampai Anda berkonsultasi kepada seorang broker yang hanya mengutamakan jumlah transaksi Anda bisa rugi besar jika terus menerus berhubungan dia. Ok ?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *